Minggu, 11 Mei 2008
Kemarin ada kejadian yang tidak saya sangka, berawal dari saya meminta putri pertama saya untuk pipis… dengan menanggis meraung-raung seperti dimarahi Aurel menolak untuk dipipis-in padahal seudah dari sejak jam 9 pagi, saat itu sudah jam 2 siang, Aurel tidak pipis sama sekali.
demikian dialog yang terjadi
“Mama Aurel tidak mau pipis, ga mau”
“Kenapa”
“Pokoknya ga mau pipis”
Dengan meronta sekuat-kuatnya, sampai saya memegangnya kekecangan karena menahannya supaya tidak jatuh, dan akhirnya pun lepas dari pegangan saya dan lari ke arah papanya, minta pembelaan.
“Aurel, hayo pipis nanti perutnya sakit”
“ga mau, Yeye ga mau pipis”
“kalo Yeye ga mau pipis, perutnya sakit mama bawa ke dokter loh, nanti dokternya yang suruh Yeye pipis”
“Yeye ga mau pipis, Yeye ga mau pipis disini juga ga mau pipis di dokter”
“hayo, mama gendong pipisnya” akhirnya saya paksa juga, gendong untuk pipisin ke sekian kalinya.
” Aurel pipis dulu, nanti kita ambil mainan di atas yach”
(sambil terisak) ” iya, ambil semua mainan yang di atas”
“ya udah, semua mainan yang aurel mau, tapi pipis dulu’
“mama aja yang maen, mama maen aja di tangga”
“di tangga apanya yang bisa dimainin, sayang”
“mama naek turun aja trus mama lempar-lempar”
“gimana mama bisa lemparin tangga”
“mama potong tangganya, mama potong ama gunting tapi jangan pake gunting kecil, pake gunting besar saja”
“jangan dong sayang, nanti tangganya rusak”
“yeye ga mau pipis mama”
akhirnya untuk kedua kalinya Aurel bisa melepaskan diri,”langsung saya bilang (agak teriak)… ok kalau aurel ga mau ikutin kata mama, ga papa, aurel ga mau pipis juga gpp, tapi kalau aurel minta apa-apa mama juga berhak untuk ga ikutin yach.”
akhirnya saya diamkan aurel masih dalam keadaan menanggis, untuk memberinya ruang. Papanya yang dari tadi diam, akhirnya turun tangan membujuknya diam, dan Aurel meminta minum susu, dan harus papanya yang buat, dan ketika susunya selesai dibuat, Aurel mau tiduran sambil minum, tapi bantal dan guling dipakai oleh saya, dan Aurel tidak berani memintanya, dia meminta papanya yang ambilkan, tapi papanya tidak mau, akhirnya dari pada memintanya ke saya, aurel lebih memilih tidur diluar. Sebenarnya saya tidak tega membiarkannya menanggis meraung-raung, hanya karena persoalan pipis, tapi saya takut jika dibiasakan dituruti apa yang dia inginkan akhirnya menanggis menjadi jurus pamungkasnya untuk mengalihkan perintah.
Dan akhirnya Aurel pun tertidur pulas, sebelum dia bangun saya sudah harus pergi melayat di RS. Husada.
Ketika saya pulang, sepertinya aurel sudah melupakan segalanya.